Video Viral Bocah Tengah Wudhu Tewas Tertimpa Tembok yang Ditabrak Motor Pelajar SMP

Viral di sosial media rekaman detik-detik pelajar SMP melakukan aksi freestyle naik motor hingga menabrak tembok. Nahasnya tembok rubuh dan menimpa siswa SD yang sedang berwudu hingga tewas.

Aksi pelajar SMP mengendarai motor sembari melakukan aksi freestyle hingga menabrak tembok viral dan menimpa siswa SD di sosial media. Dalam rekaman video yang tersebar di sosial media, semula siswa SD yang menjadi korban tengah berlari ke area tempat wudu. Area tempat wudu itu dibatasi tembok. Di balik area tempat wudu itu diketahui adalah area parkir yang letaknya lebih tinggi.

Ketika tengah mengambil wudu, tiba-tiba datang pelajar SMP yang mengendarai motor dan melakukan aksi freestyle. Aksi freestyle itu membuat siswa SMP kehilangan kendali motornya sampai menabrak tembok tempat wudu.

Baca Juga:   10 Tempat Kuliah Kelas Karyawan Terbaik Di Medan

Tembok kemudian roboh dan menimpa siswa SD yang tengah berwudu itu. Kapolsek Koto Tangah AKP Afrino menyampaikan peristiwa itu terjadi pada Senin (18/9) sore. Akibat kejadian itu, siswa SD bernama Gian tewas.

“Benar kejadiannya, dia meninggal dunia. Kejadian kemarin sore, saat korban hendak Salat Ashar. Untuk perkara ini sudah ditangani oleh Kanit Laka Polresta Padang dikutip detikSumut.

Pelajar di bawah umur memang tidak diperbolehkan berkendara. Pun untuk membuat SIM (Surat Izin Mengemudi), persyaratan usia yang harus dipenuhi minimal 17 tahun. Bukan tanpa alasan, Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menjelaskan anak berusia di bawah umur tidak memiliki keterampilan bagus untuk berkendara roda dua.

Baca Juga:   Viral Pria di Bogor Lompat dari Jembatan Setinggi 20 Meter demi Hindari Dept Collector

“Pengendara motor itu wajib memenuhi kompetensi ketrampilan, prilaku, kesadaran serta kewaspadaan. Anak yang masih di bawah umur ketrampilan motoriknya belum terlatih & tidak konsisten dalam mengontrol motor. Hal tersebut dipengaruhi perilaku serta kebiasaan yang masih belum stabil secara emosi,” terang Sony dihubungi detikOto, Rabu (20/9/2023).

Sony menambahkan kesadaran anak di bawah umur dalam berlalu lintas juga masih rendah. Di sisi lain, orang tua harusnya tidak melakukan pembiaran anaknya untuk berkendara.

“Seolah-olah mudah, dekat, gampang, tapi tidak sadar risiko yang bisa membuat fatal,” tambah Sony.

Loading

Berikan Komentar Anda