Cadangan BBM di Indonesia Tersisa 20 Hari ke Depan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman untuk 20 hari mendatang. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik AS-Israel versus Iran di Timur Tengah.

“Masih cukup, 20 hari,” kata Bahlil usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Bahlil juga menambahkan bahwa subsidi BBM untuk masyarakat tidak mengalami kendala sampai saat ini.

Meski situasi dalam negeri terkendali, Bahlil mengingatkan potensi koreksi harga minyak dunia akibat gejolak geopolitik global. Ia berencana membahasnya dengan Dewan Energi Nasional (DEN).

“Harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah. Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN), setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisis dan kajian dari DEN,” jelasnya.

Baca Juga:   Salat Tarawih Tercepat di Indramayu, 18 Detik Per Rakaat

Kenaikan harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting untuk ekspor minyak global.

Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dikutip Al Jazeera (3/3/2026), sekitar 20 juta barel minyak melewati selat ini setiap hari pada tahun 2024, setara dengan seperlima konsumsi minyak dunia dengan nilai mencapai 500 miliar dolar AS (sekitar Rp 8,4 kuadriliun, kurs Rp 16.700).

Negara-negara produsen minyak di Timur Tengah, seperti Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), bergantung pada Selat Hormuz untuk mengirimkan ekspor minyak ke berbagai negara di Asia, Amerika Utara, dan Eropa.

Asia merupakan konsumen terbesar, dengan 84 persen ekspor kondensat menuju negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca Juga:   Dimas Anggara Diduga Gampar Kiesha Alvaro di Lokasi Syuting, Pasha Ungu Geram

Potensi gangguan pasokan minyak global meningkat jika konflik memanas dan kapal tanker terpaksa mengubah rute atau berhenti melewati Selat Hormuz.

Eskalasi konflik AS-Israel versus Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan minyak dunia.

CNBC (3/3/2026) melaporkan bahwa perusahaan pelayaran kontainer besar, Maersk, telah menangguhkan semua pelayaran melalui Selat Hormuz hingga situasi stabil.

Perusahaan lain memilih jalur alternatif melalui ujung selatan Afrika, yang mengakibatkan peningkatan biaya pengiriman.

Amrita Sen, pendiri Energy Aspects, berpendapat bahwa penutupan total Selat Hormuz oleh Iran kecil kemungkinannya. “AS dan Israel akan dengan cepat menetralisir langkah tersebut. Kekuatan militer AS jauh lebih unggul untuk mengatasi kemampuan Iran melakukan itu,” kata Sen.

Baca Juga:   Viral Kecelakaan Bus PO Gunung Harta di Sampang Madura

Namun, Sen memperingatkan risiko serangan sporadis terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, yang dapat mengganggu rantai pasokan minyak global.

 

 

 

 

 

sumber: asatunews.co.id

Loading

About the Author

admin