Aparat Tuduh Pedagang Es Gabus Pakai Spons

Jajanan es gabus mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial setelah seorang kakek penjual makanan tradisional dituduh menggunakan bahan berupa spons bedak. Tuduhan tersebut memicu kekhawatiran masyarakat karena menyebut jajanan itu berbahaya dan tidak layak dikonsumsi, khususnya oleh anak-anak.

Isu es kue gabus yang diduga terbuat dari spons ini bermula dari laporan sejumlah warga di Kemayoran. Mereka merasa curiga dengan tekstur jajanan tersebut. Dalam video yang beredar, terlihat oknum aparat menilai tekstur kenyal dan berongga sebagai ciri bahan non-pangan, bahkan sempat melakukan pembakaran terhadap sampel es gabus tersebut.

Rekaman pemeriksaan es kue gabus di Jakarta Pusat itu menuai kecaman dari warganet. Banyak pihak menilai tindakan tersebut dilakukan secara terburu-buru dan berpotensi merugikan pedagang kecil yang menggantungkan penghidupan dari penjualan jajanan tradisional.

Baca Juga:   Kronologi Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang KM 92

Namun, hasil pemeriksaan lanjutan justru mematahkan tudingan yang beredar. Aparat memastikan bahwa es kue gabus tersebut aman untuk dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya seperti spons maupun Polyurethane Foam (PU Foam).

Berdasarkan hasil uji lebih lanjut, diketahui bahwa es kue gabus yang viral tersebut dibuat dari tepung hunkwee, bukan bahan sintetis. Tepung hunkwee merupakan pati kacang hijau yang telah lama digunakan sebagai bahan dasar berbagai jajanan pasar.

Bahan ini memang memiliki karakteristik menghasilkan tekstur kenyal, padat, dan berpori, sehingga kerap disalahartikan sebagai bahan buatan. Padahal, hunkwee lazim digunakan dalam pembuatan kue lapis, cantik manis, hingga es gabus.

Es kue gabus sendiri merupakan makanan tradisional berbahan campuran tepung dan santan yang dimasak, kemudian dibekukan dan dipotong kecil-kecil. Sebutan “gabus” merujuk pada teksturnya yang ringan dan empuk, bukan pada bahan pembuatannya.

Secara tampilan, jajanan ini biasanya berbentuk potongan balok kecil berwarna cerah seperti merah muda, hijau, atau cokelat, dan umumnya dijual keliling dalam plastik kecil tanpa menggunakan tusuk.

Peristiwa viral ini menjadi pengingat penting akan perlunya edukasi pangan dan sikap kehati-hatian dalam menyikapi informasi. Tuduhan yang tidak berdasar tidak hanya menyesatkan masyarakat, tetapi juga berpotensi mematikan usaha kecil yang menjaga keberlangsungan kuliner tradisional.

Loading

About the Author

admin