Marissa Hutabarat, Warga Batak Pertama yang Jadi Hakim di Amerika Serikat

Nama Marissa Hutabarat menjadi viral lagi di media sosial setelah ada orang Indonesia yang kembali mengunggah foto Marissa Hutabarat di X.

“Terlambat untuk unggahan 17-an, tapi aku mau kasih tahu momen membanggakan ‘Indonesia-coy’ adalah ketika aku menemukan perempuan namboru Batak ini terpilih menjadi hakim di New Orleans. Kayak, wow ini puncaknya Batak. Selamat untuk Hakim Marissa Hutabarat, kamu keren,” kata salah satu akun di X.

Unggahan itu pun mendapat banyak komentar dan dilihat 1,3 juta kali.

Siapa Marissa Hutabarat?

Pada tahun 2020, jurnalis Kompas TV, Rosianna Silalahi pernah mewawancara Marissa Hutabarat dan disiarkan langsung di kanal YouTube KOMPASTV.

Dalam kesempatan tersebut, Marissa Hutabarat mengatakan dirinya memang tidak pernah ke Indonesia karena besar di Amerika Serikat.

Berikut sejumlah rangkuman sosok Marissa Hutabarat berdasarkan wawancara itu:

Baca Juga:   Warga Bongkar Kuburan di Bima Gegara Terdengar Suara Ketukan darai Dalam Tanah

1. Lahir dan besar di Amerika Serikat

“Saya lahir dan besar di Amerika Serikat. Saya lahir di Glendale, California, keluarga saya pindah ke Chicago, Illinois, sekitar tahun 1983,” ujar dia mengawali wawancara.

Ayah Marissa Hutabarat bersekolah di sekolah kedokteran gigi di Chicago, sehingga keluarganya pindah ke sana.

Sang nenek pun ikut ke Amerika Serikat untuk merawat dirinya dan keluarga ketika ayah sedang bersekolah.

“Ibu saya kerja di dua tempat untuk menghidupi kami,” jelas dia.

Marissa Hutabarat memiliki dua adik yang terpaut usia 7-9 tahun.

Nilai keluarga yang kental membuatnya ikut mengurusi dua adiknya itu.

2. Belajar hukum di Loyola University

Marissa Hutabarat ternyata belajar hukum di Loyola University yang berada di New Orleans.

Kecintaan dengan New Orleans mengetuk hatinya untuk mengabdi pada kota tersebut sesuai dengan bidangnya.

Baca Juga:   VIRAL Seorang Istri Nangis Diikat dan Jadi Tontonan Warga Setelah Ditinggal Suami Kabur Saat Ketahuan Maling

“Maka saya ingin menjadi hakim dan mengabdi pada kota ini. Setelah lulus kuliah hukum, saya punya ide untuk jadi seorang hakim ,” jelas dia.

Ia mengakui, ide tersebut datang cukup cepat, tepat setelah ia lulus dari Loyola University.

“Setelah itu, saya diberi kesempatan untuk melayani tiga hakim yang berbeda sebagai panitera pengadilan,” tuturnya.

Saat melayani tiga hakim itu, Marissa Hutabarat menyadari, untuk menjadi hakim, dia harus memiliki keinginan dan semangat untuk menolong orang.

“Dan saya jadi paham, menemukan passion saya untuk menegakkan hukum,” terangnya.

Marissa sempat menjadi pengacara untuk mengetahui perspektif orang yang mengadukan masalah hukum.

Setelahnya, dia baru mengajukan diri untuk menjadi hakim First City Court atau setara dengan peradilan tingkat pertama.

3. Bapak orang Batak dan ibu China-Thailand

Baca Juga:   Video Viral Modus Rem Rusak Berasap di Puncak Bogor

Marissa Hutabarat lahir dari seorang laki-laki Batak bernama Hutabarat dan ibu keturunan China-Thailand.

Meski lahir dan besar di Amerika Serikat, Marissa Hutabarat mengakui keluarganya masih mewarisi nilai ke-Indonesiaan, salah satunya berorientasi pada keluarga.

“Saya yakin, nilai itu masih ada dalam diri saya karena warisan Batak. Opung saya tinggal bersama kami ketika saya masih berusia 9 bulan. Beliau banyak merawat saya juga. Orientasi keluarga ini menurun dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Marissa Hutabarat menceritakan, opung menjanda dengan tujuh anak saat masih muda.

Saat itu, banyak saudara datang untuk membantunya dan keluarga.

“Dan ketika anak-anaknya sudah cukup dewasa. Anak yang lebih tua membantu adik-adiknya. Itu terus berlanjut ketika orang tua saya butuh bantuan merawat saya, beliau ikut tinggal bersama kami,” ucapnya.

Loading

Berikan Komentar Anda