Insiden tendangan ala kung fu kembali terjadi di kompetisi Liga 4 Indonesia. Seorang pemain Persikaba Blora harus dilarikan ke rumah sakit setelah bagian dadanya terkena tendangan keras dari kiper PSIR Rembang.
Persikaba Blora bertandang ke markas PSIR Rembang di Stadion Krida pada Rabu (21/1/2026) dalam lanjutan pertandingan Liga 4 Jawa Tengah.
Peristiwa tersebut terjadi pada menit ke-70. Saat itu, Persikaba mendapat kesempatan tendangan bebas dan bola diarahkan ke dalam kotak penalti PSIR.
Kiper PSIR Rembang, Raihan Al Fariq, berusaha mengantisipasi bola dengan mengangkat kaki kanannya sangat tinggi.
Namun, alih-alih mengamankan bola, kaki Raihan justru menghantam dada pemain Persikaba, Rezal Dimas Agesta, dengan keras.
Rezal yang berusaha menyambut umpan dari rekannya justru menerima benturan langsung dari sepatu bola kiper yang mengenai bagian dadanya.
Benturan tersebut membuat Rezal terjatuh dan terlihat kesakitan. Ia tidak mampu bangkit dalam waktu lama hingga memaksa tim medis masuk ke lapangan.
Akibat kejadian itu, Rezal langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif, termasuk menjalani pemeriksaan rontgen.
Yang menjadi sorotan, kiper PSIR Rembang tidak mendapatkan sanksi apa pun dari wasit, meskipun pelanggaran tersebut tergolong keras dan terjadi di dalam area penalti.
Situasi ini memicu kemarahan manajer Persikaba Blora, Imroni, yang mengecam keras aksi kiper PSIR dan menilainya telah melewati batas sportivitas.
Imroni pun mendesak Komite Disiplin (Komdis) PSSI agar melakukan penyelidikan menyeluruh atas insiden yang melibatkan pemain PSIR tersebut.
Ia juga meminta agar Komdis PSSI menjatuhkan hukuman berat kepada Raihan Al Fariq karena tindakannya dinilai tidak bisa ditoleransi dalam dunia sepak bola.
Mengutip laporan Tribun Jateng, Rezal hingga kini masih menjalani perawatan medis dan berada dalam pengawasan tim dokter.
Kondisi ini semakin memprihatinkan, terlebih keputusan wasit yang tidak menganggap kejadian tersebut sebagai pelanggaran.
Insiden serupa bukan kali pertama terjadi. Dalam kompetisi yang sama, Liga 4 Indonesia, kasus tendangan berbahaya telah terjadi lebih dari dua kali.
Komdis PSSI sebelumnya juga telah menjatuhkan hukuman tegas berupa larangan bermain seumur hidup kepada pelaku pelanggaran serupa.
Sanksi tersebut diberikan kepada Hilmi Gimnastiar, pemain Putrajaya Pasuruan di Liga 4 Jawa Timur, ditambah dengan denda sebesar Rp2,5 juta.
Kejadian-kejadian semacam ini jelas mencoreng citra sepak bola Indonesia.
Kurangnya kedewasaan dalam bermain terlihat jelas, seolah sepak bola tidak lagi dimainkan untuk keindahan permainan, melainkan berpotensi mencederai lawan.
Sepak bola nasional seharusnya belajar dari tragedi masa lalu, seperti meninggalnya Akli Fairuz akibat benturan keras di bagian perut setelah terkena kaki kiper lawan.
Begitu pula dengan Jumadi Abdi yang juga meninggal dunia akibat benturan di perut yang menyebabkan infeksi organ dalam.
Masyarakat pecinta sepak bola Tanah Air tentu berharap kondisi korban dapat segera membaik dan berharap kejadian tendangan berbahaya seperti ini tidak kembali terulang di masa mendatang.
![]()
